6 Alasan Kenapa Aku Harus Nonton Film Kartini (Plus Review)

11:06 AM

Source: Liputan6.com
Sejak pertama kali di-announce bahwa bakalan ada film Kartini, wah, aku langsung niat banget pokoknya harus nonton di hari pertama. Dan Alhamdulillah, semalem (19/4) kesampean :D

I'm too excited about film Kartini! Mulai dari ceritanya, pemain-pemainnya, sampai sutradaranya. Membuat aku yakin pasti film ini nggak akan fail, dan bakal booming banget. Tapi sebenernya, ada hal-hal lain yang membuat aku bener-bener niat untuk nonton film ini, sih :)

1. Sejak Kecil, Aku Sudah Dikenalkan pada Kartini

Legacy Pictures bikin foto kayak gini coba, mirip banget  sama aslinya. Source: Legacy Pictures.
Aku lahir dari orang tua yang sama-sama Jawa tapi punya budaya dan latar yang berbeda. Papaku adalah orang Jogja, dan Mamaku asli Jepara.

Papa dan Mama nggak pernah lupa untuk mengenalkan budaya dan sejarah masing-masing daerahnya. Biasanya, hal-hal ini difasilitasi oleh Papa Mamaku ketika mudik ke kampung halaman mereka. Jepara, yang identik banget sama Kartini dan kayu ukirnya, sudah bukan hal yang asing lagi di hidup aku.

Kartini bukanlah "tokoh baru" atau tokoh yang biasa-biasa aja di dalam hidup aku. Sejak kecil, aku terbiasa didengarkan cerita-cerita Kartini dari Mama, nenekku, bahkan Mbah Uyutku yang selalu excited menceritakan tokoh kebanggaan daerah mereka itu. Sebelum tidur, aku pasti mendengarkan cerita detail tentang perjuangan Kartini sebagai seorang perempuan, yang closing-nya selalu mengarahkan aku untuk lebih semangat lagi untuk belajar, dapat nilai bagus, dan bisa bermanfaat buat banyak orang.

Bahkan, aku merasa bahwa kepribadian aku yang dominan, semangat, dan hardworker sampai saat ini juga terbentuk lewat pengenalan tokoh Kartini dari perempuan-perempuan yang berpengaruh dalam hidup aku, yaitu Mama, nenek, dan Mbah Uyut :D

Selain lewat cerita, aku juga dikenalkan pada Kartini lewat sejarah-sejarah fisiknya. Setiap mudik ke Jepara, pasti aku selalu diajak mampir ke Museum Kartini. Bosen? Ya juga, sih, karena pada dasarnya agak bingung kalau di Jepara mau bertamasya kemana lagi selain ke pantai :))) But it's okay, aku memang selalu tertarik sama perjalanan Kartini, sampai ruangan-ruangan rumah Kartini mulai dari kamar pingitan, tempat main Kartini, mesin jahit, rak-rak buku Kartini, dan lain-lain. Mind blown!

2. Darah Jepara yang Membuat Aku Bangga

Source: brilio.net
Biar gimanapun, darah Jepara tetap mengalir di diri aku. Hal ini tentunya membuat aku bangga, dan semakin semangat untuk mencontoh sikap Kartini dalam menuangkan pemikiranya. Kebayang dong, gimana excited-nya aku nonton film yang mostly scene-nya diambil di Museum Kartini di Jepara? Seru!

3. Kartini Menginspirasi Lewat Tulisan-Tulisannya

Source: Legacy Pictures
Aku semakin memahami bahwa pemikiran yang dituangkan dalam tulisan itu bisa abadi dikenang selama-lamanya. Sebagaimana Kartini, yang terus menginspirasi lewat tulisan-tulisannya tanpa menyerah, tanpa berhenti.

Apapun hambatannya, Kartini tetap menulis, tetap belajar, tetap semangat untuk cari ilmu untuk empower perempuan-perempuan lainnya. Kalau di jaman dulu penghambat Kartini adalah faktor eksternal dari orang-orang lain di sekelilingnya yang nggak mau menentang budaya, justru di masa sekarang penghambat itu malah datang dari faktor internal atau dari diri seorang perempuan itu sendiri. Makanya, tokoh Kartini tuh bener-bener bisa bikin berkaca bahwa sebagai perempuan kita juga harus maju, karena justru perubahan pertama itu dimulai dari diri seorang perempuan. Yap, hal ini tentunya meningkatkan semangat aku buat nulis lebih banyak lagi, dan menginspirasi lebih luas lagi layaknya Kartini. Semoga, ya!

4. Sejalan dengan Misi Hidupku, #EmpoweringWomanNow

Source: Legacy Pictures
Hasrat dan pemikiran Kartini untuk memajukan kaum perempuan sebenarnya masih sangat relevan lho sampai sekarang. Bayangin aja, Kartini yang hidup pada jaman itu udah punya pemikiran post-modern yang masih berlaku hingga abad ke-21 saat ini. Aku selalu percaya, perempuan Indonesia itu terkenal dengan keberanian dan ketangguhannya. Di Indonesia pasti banyak kok perempuan-perempuan menginspirasi yang bisa empower kaum perempuan di sekelilingnya. 

Karakter Kartini yang punya ambisi dan keinginan yang besar, berhasil membentuk aku menjadi seorang perempuan yang penuh target, mimpi, dan misi. Aku selalu beranggapan bahwa setiap perempuan itu bisa maju melalui kelebihannya masing-masing dengan menjadi dirinya sendiri. Seperti halnya campaign #EmpoweringWomanNow yang jadi personal project aku di tahun 2017 ini. Project ini adalah salah satu wujud woman empowerment mission yang aku jalanin supaya aku selalu semangat untuk jadi manusia yang bermanfaat untuk banyak orang.

5. Dian Sastro, Kartini Masa Kini dari Ranah Selebriti

Source: Legacy Pictures
Bisa dibilang, ini alasan klasik, sih. Dari jaman kecil aku udah mengidolakan Dian Sastro banget, lebih tepatnya dari jaman SD waktu Mbak Disas muncul di film "Ada Apa Dengan Cinta?". Kepribadian, karakter dan pemikiran Mbak Disas yang powerful di tengah statusnya sebagai selebriti, membuat aku kagum dan gemes sama Mbak yang awet muda ini.

Pas tau dia memerankan Kartini, semakin kuat alasanku untuk harus banget segera nonton :)) Dan terbukti, aktingnya Mbak Disas pas banget. Nggak kurang, nggak over. Bahkan, kalau diperhatikan, saking menjiwainya Mbak Disas dalam memerankan Kartini, ngomongnya jadi kebawa medhok lho dalam kehidupannya sehari-hari. Haha, idolaaaa!

5. Hanung Bramantyo, Sutradara Favoritku untuk Ranah Biografi

Last but not least, sekalian review filmnya dikit-dikit. Buatku, film besutan Mas Hanung Bramantyo itu nggak pernah mengecewakan, dan aku selalu suka. Mulai dari teknik sinematografi, pemaparan isi cerita, pemilihan peran dan karakter sampai soundtrack-nya selalu ditampilkan dalam porsi yang pas.

Tapi, aku paling suka karya-karya Mas Hanung di film-film biografinya. Habibie Ainun, Rudy Habibie dan Soekarno adalah beberapa diantaranya. Nggak tahu kenapa, aku selalu merasa dibuat nyaman ketika menikmati jalan cerita biografi seseorang di film besutan Mas Hanung, dibandingkan besutan sutradara lainnya. Tau sendiri kan, gimana susahnya menyeleksi bagian-bagian mana yang wajib, harus, dan nggak perlu untuk diberitahukan di dalam sebuah film dari sebuah biografi dan perjalanan hidup yang begitu panjang. Ya, disitulah tantangan dan serunya membuat film biografi.

Source: pikiran-rakyat.com
Overall, film Kartini dipaparkan secara apik, rinci, dan detail oleh Mas Hanung. Cerita kisah hidup Kartini yang begitu kompleks (karena banyak tokoh-tokoh yang mempengaruhi hidup Kartini dan benang merahnya cukup rumit) bisa disampaikan lebih sederhana dan mudah dimengerti banyak orang, termasuk orang-orang yang sebelumnya belum mengerti sejarah dan cerita Kartini sejak awal. Akting para pemainnya juara semua, karena yang main pun aktor dan aktris ternama. Pengambilan gambar dan teknik sinematografi lainnya nggak perlu diragukan lagi, karena untuk hal ini menurut aku tim Mas Hanung memang juaranya. 

Hanya saja, backsound sepertinya agak kurang menggelegar. Pemaparan cerita jadi terkesan sangat lambat, tapi ini wajar karena seperti yang aku bilang tadi bahwa cerita kehidupan Kartini memang kompleks sekali. Nggak ada momen klimaks dalam sebuah film yang bisa diartikan sebagai "kemenangan" Kartini. Film ini belum bisa menyentuh emosional aku secara personal sebagai perempuan, yang harapannya setelah nonton film ini bener-bener jadi punya perubahan semangat drastis untuk bisa lebih baik dan lebih powerful lagi. Aku seakan seperti cuma jadi tahu, "Oh, begini toh gambaran cerita Kartini yang selama ini aku pelajarin.".

Tapi sepertinya, sisi emosional yang ingin ditonjolkan film ini lebih ke rasa sayang sama Ibu, yang notabene adalah perempuan terbaik di dalam hidup seseorang, terutama perempuan. Momen kedekatan Kartini dengan sang Ibu benar-benar digambarkan secara dramatis dan penuh makna. Yap, inilah yang agak 'menyentil' emosi aku yang kemudian jadi kangen banget sama Mama di rumah, dan pengen bilang "Makasih Ma atas semua pengorbanannya.".

Kesimpulannya, film Kartini sama sekali nggak mengecewakan. Kalaupun ada kesempatan atau diajak untuk nonton lagi, aku tetap mau karena aku tetap terinspirasi sama Kartini, sama Mbak Disas, sama karyanya Mas Hanung, sama Jepara, dan sama kebanggaanku terhadap karakter positif seorang perempuan untuk bisa menginspirasi perempuan lainnya. Rating? Hmm, 4 dari 5 bintang deh, ya :)

Belum nonton? Pancing keinginanmu dengan simak trailernya di sini.


You Might Also Like

0 Comments