Grebeg Sekaten, Jogja Memang Istimewa!

9:49 AM

Kuliah sudah libuuuur, urusan akademik sudah selesai dan.. waktunya kita berburu event di kotaku tercinta ini. Sebelum 'memulangkan' diri ke pangkuan Ayah dan Ibu di kota asal yang lagi kebanjiran, Jakarta, saya masih betah di Jogja dan motret sana-sini. Sekitar pukul 10.00 saya bergegas dari rumah saya di Jogja yang terletak di kawasan Gamping, Ambarketawang, Sleman menuju Malioboro. Pada saat itu jalanan sekitar Malioboro dan 0 KM sudah ramai dan di beberapa ruas jalan sudah dialihkan ke jalan lain. Kirab memang sudah dimulai sejak pukul 09.30 WIB, ya, saya telat. Telat karena malas mandi.

Beruntung, saya berhenti di tempat yang tepat. Maksud hati ingin langsung ke Masjid Agung Yogyakarta dan Alun-Alun Utara selaku pusat acara, namun ternyata disana sesak sekali. Ribuan orang sudah memadati sepanjang jalan dari Alun-Alun Utara-Pura Pakualaman-Masjid Agung Kauman-hingga ke Kepatihan (Kantor Gubernur DIY) yang terletak di Jalan Malioboro. Setelah saya memarkir kendaraan di gereja tua sebelah Mirota Batik, saya terhenti persis di depan Gedung Agung Yogyakarta dan paaaaaas sekali, saat itu, kirab Gunungan sudah tiba di 0 km. Saya memilih untuk stay  di tempat itu saja dan saat kirab sudah lewat di depan saya, maka saya akan mengikuti barisan kirab dari belakang. Dan ternyata betul, saya bisa menyelinap diantara ruang-ruang barisan kirab, tepat di belakang para polisi dan wartawan liputan khusus yang mengenakan pakaian kraton. Yes!

Saya nggak tau apa filosofinya saat kirab gunungan lewat, jalanan harus dalam keadaan basah.


Barisan prajurit mengawali rombongan kirab gunungan


Barisan penabuh gamelan


Gunungan sudah mulai terlihat

Para pembawa tahta gunungan

Grebeg sekaten merupakan prosesi terakhir dari upacara adat sekaten sebagai bentuk syukur Kraton atas limpahan karunia dan rezeki dari Gusti Allah. Ciri khas dari grebeg adalah gunungan, yaitu hasil bumi yang dibentuk mengerucut menyerupai gunung dan nantinya akan diletakkan di suatu tempat dan akan diperebutkan oleh masyarakat. Barang siapa yang berhasil mendapatkan bagian dari gunungan, dipercaya akan mendapatkan berkah dari gusti Allah, berupa keselamatan, kelancaran rezeki, awet muda, dan sebagainya. Gunungan pada grebeg sekaten berjumlah 7 gunungan, dan berbeda-beda jenisnya. Gunungan diarak dan diperebutkan di tiga tempat, yaitu Pura Pakualaman, Masjid Agung Yogyakarta dan Kepatihan (Kantor Gubernur DIY). Di Pura Pakualaman diletakkan 1 gunungan, di Masjid Agung Yogyakarta ada 5 gunungan, dan 1 gunungan terakhir diarak ke Kepatihan. Semua barisan kirab Gunungan ini  diberangkatkan dari Kraton. Tentu, para warga yang antusias melihat kirab Gunungan ini memadati sepanjang jalan yang dilalui kirab.

Gunungan Lanang
Gunungan yang diarak ke Kepatihan adalah Gunungan Lanang. Gunungan ini berisi kacang panjang, cabe merah, telur itik dan ketan. Saya sendiri belum faham apa filososfi dari pengisi gunungan ini. Namun, sesuai pengamatan saya, adanya 'rebutan' hasil bumi pada gunungan ini mengajarkan bagaimana kita harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.


Gunungan tiba di Kepatihan

Sekitar pukul 11.00 WIB, gunungan tiba di depan Kantor Gubernur DIY. Antusiasme warga untuk berebut hasil bumi pada gunungan sangat besar, melihat banyaknya warga yang berebut untuk berada di dekat gunungan. Gunungan Lanang dibawa ke aula Kepatihan terlebih dahulu, dan selanjutnya dibawa ke tengah-tengah lapangan Kepatihan untuk diperebutkan.

Gunungan tiba di lapangan Kepatihan

Ketika gunungan tiba, masyarakat langsung mengerumuni gunungan. Suasana riuh dan berdesakan mulai terjadi. Jujur, ini pertama kalinya saya terlibat dalam acara 'rebutan' gunungan seperti ini. Sebelumnya saya takut untuk meliput prosesi upacara seperti ini, melihat ramai dan riuhnya suasana sangat rentan dengan copet lah, terinjak-injak lah, dan lain-lain. Namun kemarin, saya merasakannya dan ternyata asik juga. Saya banyak mengabadikan gambar bersama wartawan dan masyarakat lain untuk dokumentasi.

Gunungan telah diletakkan dan mulai diperebutkan. Terlihat polisi berjaga di sekitar gunungan untuk meminimalisir terjadinya kerusuhan, eh tapi.. polisinya ternyata juga ikut ambil hasil gunungannya lho :p

Hasil gunungan dilempar-lempar. Beberapa tangan mengabadikan gambar sekaligus berusaha menangkapnya. Epic :)

Live report.

Masyarakat yang terlibat masih mempercayai adanya keberkahan yang diterima jika berhasil mengambil hasil gunungan tersebut. Percaya atau tidak, semuanya tergantung kita. Gunungan ini hanya merupakan perpaduan antara unsur agama dan budaya, yang menjadi tradisi dan beruntungnya, masih dilestarikan sampai sekarang. Maka, sebagai generus bangsa, tugas kita adalah mencintai budaya sendiri dan melestarikannya :)

Bukan hanya hasil gunungnya yang diperebutkan, bahkan bambu, kayu dan tali penyangga hasil bumi juga diperebutkan lho :)


Terus berebut!


Saya sendiri mendapatkan beberapa bagian dari gunungan yang dilemparkan oleh orang-orang yang dekat dengan gunungan. Secara tidak sengaja, saya berhasil menangkapnya. Percaya atau tidak, ya semoga rahmat dan berkah Gusti Allah selalu menyertai saya :)

Hasil yang saya dapat nih :)

Seusai gunungan habis, para prajurit kembali pulang ke Kraton. Para masyarakat tertawa bahagia dengan hasil 'rebutan' mereka. Saya juga bahagia bisa terlibat dalam acara ini. Saya bangga dengan kota Jogja, saya bangga punya keturunan Jogja. Saya cinta budaya Indonesia :)

Yogyakarta, 24 Januari 2013.
Save Our Culture.

You Might Also Like

0 Comments