Railway Station and Memories

6:33 PM



Kupandang detik-detik dinding menunjukkan pukul enam. Jarumnya berdiri tegak lurus tanpa bengkok sedikitpun. Sebuah pesan kuterima dari seorang teman yang sudah kuanggap kakakku,

“Jika kau punya waktu, susul dia di stasiun. Dia bukannya menyusulku kesini. Dia kesini karena ingin mengunjungimu. Kami satu kereta. Kereta berangkat pukul tujuh.”

Sedikitnya aku tak percaya, entah benar atau tidak dia kesini untuk mengunjungiku. Aku hanya ingin berprasangka baik, berprasangka baik, dan berprasangka baik. Ah, dia hanya ingin mengunjungi teman-teman seperjuangannya di asrama putra, dia hanya ingin menyambung silaturahim, begitu pikirku. Tepat atau tidak prasangkaku, mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Hitungan detik berlalu, sebuah pesan kembali kuterima. Pesan itu berisi ajakan dari temanku di Jogja, untuk keluar makan malam bersama. Kebetulan malam itu malam minggu.

Kembali kuabaikan pesan-pesan itu. Sementara aku masih sibuk dengan tugasku. Jarum jam sudah tak lagi lurus, sepertinya ia minta dikejar.

***

Kemarin ketika dia pertama kali menginjakkan kaki di kotaku dari Jakarta, tak sedikitpun sebelumnya  dia bicara bahwa dia akan berkunjung ke kotaku. Pasti saja, jika aku mengira dia datang bukan untukku. Mungkin memang bukan.

Secara tiba-tiba dia mengajakku bertemu, di hari pertama, aku sudah terbelenggu pada gerak tak bebas di ruang tugasku. Hari kedua, hari ketiga, begitu seterusnya, aku tak punya waktu. Selalu. Kalaupun dia tidak bertemu denganku pada saat ini, bukan hal yang mungkin bila dia sedih. Setidaknya dia disini sudah bertemu dengan teman-temannya, pikirku.

Aku semakin hanyut pada tugas-tugas yang kusukai, kunikmati detak detiknya sampai semua hampir selesai. Kuseruput kopi panas disampingku, dan aku teringat, aku harus membalas pesan itu.

“Maaf, tawaran makan malam kali ini kutolak untuk kedua kalinya. Aku masih terbelenggu waktu, kamera masih harus merekam fiksi para pemainnya.”

*pesan terkirim*

Kutolak lagi ajakan temanku itu. Kalaupun dia marah, silahkan. Waktuku belum mau memberikan menit untuknya.

***

Aku bertekad menemui dia dan kakak yang mengirimiku pesan.

“Pukul tujuh? Mengapa dia tidak mengabariku dan memberiku aba-aba? Dia marah? Aku segera kesana.”

*pesan terkirim*

Aku segera bergegas. Kuinjak gas sekencang mungkin, kendaraanku cepat melaju bersama angin. Stasiun. Kereta. Dan mimpi.

Aku terus berhimpitan dengan waktu, berulang kali ku cek arlojiku. Benar, sebentar lagi pukul tujuh.

Kakak itu sepertinya sudah memberi aba-aba kepada dia, agar tiba di stasiun lebih cepat dan bisa menemuiku sebelum kereta berangkat. Kakak itu terus menghubungiku, menanyakan dia, menanyakan aku.

***

Stasiun Lempuyangan, 18.45 WIB

Aku berlari sekencang yang kumampu. Kuhampiri gerbang. Kutengok ke segala arah, kuperhatikan segala pandangan. Aku tak kunjung melihatnya.

Aku hubungi  dia segera via telepon, bergegaslah. Aku disini. Keretamu sudah menjalar gagah.

Sesaat kemudian kakak itu menghubungiku, menanyakan dia, menanyakan aku. Lagi dan lagi.

“Kereta berangkat 10 menit lagi. Dimana dia? Aku sudah di dalam kereta, kami berangkat terpisah. Aku mencoba menghubunginya tapi nomor dialihkan. Segeralah suruh ia bergegas, kalau tertinggal tiket akan terbuang.”

Aku menghubungi dia berpacu dengan detik. Sesekali dia tidak mengangkat teleponku. Beberapa kali dia mengangkat, sepertinya sedang bergegas menuju kesini, suara lalu lintas kendaraan mendominasi.

Lonceng pertanda kereta akan segera berangkat.

5 menit lagi… Kereta diberangkatkan..”

Sekiranya itu yang kudengar. Kembali kuhubungi dia, dan masih saja dia diantara suara-suara kendaraan jalanan.

Tunggu, sebentar lagi. Aku menuju kesitu.”

Begitu dia berbicara.

Langsung saja kuhampiri petugas gerbang stasiun. Aku memohon agar kereta diberangkatkan lebih lama sedikit untuk menunggu kedatangannya, di stasiun ini. Menemui aku, melewati gerbang ini.

Pak, teman saya sedang bergegas menuju kesini. Bisa ditunggu sebentar?”

“Kami beri waktu tiga menit.”

Kuhubungi dia lagi. Kurang dari tiga menit kau pasti bisa tiba disini. Aku yakin.

Tiga menit berselang,

“Maaf, Mbak. Temannya dimana? Kami harus memberangkatkan kereta tepat waktunya. Jika tidak, kecelakaan bisa terjadi. Ini sudah hampir tiga menit lewat. Suruh teman anda ke Stasiun Tugu saja, temui dia disana.”

“Tapi, Pak…”

Petugas itu meniupkan peluitnya. Aku merasakan bahwa menit-menit itu berharga. Daripada harus merelakan nyawa orang banyak? Ah, itu keterlaluan sekali. Dan yang tidak kusangka, petugas itu kemudian berkata padaku,

“Ikhlas ya, Mbak. Sekarang cepatlah bergegas ke Tugu. Disana mungkin kalian bisa bertemu.”

Terima kasih, Pak. Semoga kami bisa bertemu.”

Genggamanku berdering. Kakak itu kembali menelponku.

“Aku sudah di kereta, kereta sudah berangkat. Aku masih khawatir dia dimana. Cepat suruh dia bergegas ke Stasiun Tugu. Kereta sekarang menuju kesitu.”

Genggamanku berdering kembali, dia meneleponku.

“Cepat ke Tugu, Cepaaaat! Mungkin disana kita bisa bertemu! Aku menuju Tugu!”

Aku bergegas melangkah dan kembali melaju bersama kendaraanku. Lima menit kemudian aku sampai disitu. Stasiun Tugu. Kereta. Dan mimpi-mimpi yang terluka.

***

Stasiun Tugu, 19.10 WIB

Diimana? Jalur berapa? Aku tidak tahu. Kami semua sama-sama panik dan terburu-buru. Sekitarku terasa begitu sesak, padat, ramai dan.. Ah, kuterobos semua orang lalu lalang itu. Lagi, aku berlari sekencang yang ku mampu. Kutanya pada siapapun yang ada disitu. Kepada seorang Ibu yang menjajakan Gudeg, “Bu, kereta Gajah Wong ada di jalur berapa????Tanyaku dengan nafas terengah-engah.

“Jalur 3, Mbak! Ayo cepat, keretanya sudah mau berangkat!”

Sementara saat itu aku masih di jalur 1. Posisiku harus melewati satu gerbong kereta untuk sampai ke jalur 3. Ya, keretamu tertutup oleh kereta di jalur 2.

Aku lewati gerbong itu, pandanganku lurus ke jalur 3. Jalur 4. Berjejer dan kosong. Ya, kosong.

Yang aku lihat hanyalah rel dan beberapa penjual yang duduk menghitung hasil. Tak ada penumpang yang lalu-lalang, tak ada keramaian, tak ada yang masih menunggu kereta, tak ada. Sepi, dan kosong.

“Bu, kereta Gajah Wong nya sudah berangkat?”

Tanyaku pada seorang Ibu yang menjajakan salak pondoh khas kotaku.

“Oh, kereta yang menuju Ibu Kota? Baru saja melesat, jika kau bisa lihat, itu, lampu kecil diujung sana, masih terlihat, kan.”

Kulihat di kejauhan memang ada lampu dari setitik gerbong yang kian menjauh. Sepertinya memang baru saja kereta itu berangkat, aku merasakan engkau melambaikan tanganmu dari kaca jendela sana. Ya, meskipun jauh, meskipun aku tidak tahu.

Genggamanku bergetar. Sebuah pesan kembali kuterima.

“Sudah berangkat. Tidak bertemu. Maaf ya, kita semua terburu-buru. Mungkin bukan sekarang waktunya, tapi ada waktu lain yang lebih barokah. Jaga dirimu.”

Genggamanku kembali bergetar. Sebuah pesan kembali kuterima. Dari kakak itu.

“Dik, nggak ketemu, ya.. Jangan sedih  ya, besok saat kamu kembali ke Jakarta, mungkin itu waktunya.. Senyum. “

Aku duduk diantara bangku-bangku kosong itu. Tenang. Tak ada suara. Sepi. Tak ada satupun jiwa. Yang kulihat hanyalah Ibu penjual salak pondoh itu, yang terus memandangku dengan penuh rasa iba. Aku duduk, menunduk, dan menangis, di bangku itu. Jalur 3, cukup lama.

Tanpa disadari aku menitikkan air mata. Air mata penyesalan? Mungkin karena aku menyia-nyiakan waktu hingga mengecewakan orang lain, itu lebih tepatnya.

Kenapa, Nduk..”

Ibu penjual salak pondoh itu tak kusangka menghampiriku. Raut wajahnya penuh peduli, dan menawariku sisa salak dagangannya yang belum terjual malam itu secara Cuma-Cuma. Kami pun bercerita.....

***
.
Kereta terus melesat ke tujuannya.

Aku kembali kerumah dengan tangis yang masih tersisa, kenangan yang indah dan terluka, dan sedikit ketenangan yang diberikan oleh Ibu penjaja salak.

Dan perasaan itu menjadi rindu, yang mengaduh sampai saat ini.

***

Detik berlalu, waktu berjalan. Cinta bisa saja bertambah, atau bahkan berkurang.

You Might Also Like

0 Comments